Rabu, 06 Maret 2013

SEJARAH SINGKAT PAROKI ST. ALBERTUS AGUNG JETIS


    Sekitar tahun 1952 Rm. E. Hardjawardaya, Pr dan Rm. Sumaatmadja, Pr yang bertugas sebagai Pastor Pembantu di Paroki St. Antonius Kotabaru menawarkan gagasan agar kring-kring di sebelah barat Kali Code yakni Kring Bangirejo, Jetis dan Gondolayu disatukan dalam satu koordinasi wilayah kerja demi efektifitas reksa pastoral. Gagasan tersebut disambut dengan baik. Pada tahun 1954 ketiga kring itu menyatu dan menjadi Stasi Jetis.
Pada awalnya stasi Jetis belum memiliki gedung gereja sendiri, sehingga Perayaan Ekaristi pada hari Minggu ataupun hari Raya diselenggarakan di rumah umat, di tempat umum ataupun di kantor instansi pemerintah yang memungkinkan, seperti SMPN VI, SPG/SMA XI, STM Jetis dan kantor Balai Penyamakan kulit di Jl. Diponegoro (kini: Rumah Makan “Sari Raja”).
Pertengahan tahun 1959, Stasi Jetis berada dalam reksa pastoral Rm. Carlo Carri, SJ. Dengan telaten, Rm. Carri mengadakan pendekatan dengan tokoh-tokoh awam di Stasi Jetis untuk menjajaki kemungkinan mendirikan gereja di wilayah Jetis.
Pada tanggal 15 Oktober 1960, di Jetis berdiri Susteran Amal Kasih Darah Mulia dan diresmikan oleh Sr. Patricia, ADM sebagai provinsial. Atas kebaikan Suster-suster ADM, umat Stasi Jetis diperbolehkan mengadakan Perayaan Ekaristi di Kapel Susteran.
Karena perkembangan umat semakin pesat, maka untuk efektifitas pendampingan dan reksa pastoral umat, Kring Bangirejo dimekarkan menjadi 2 kring yakni Kring Blunyah dan Kring Bangirejo. Kring Jetis dimekarkan menjadi 2 yakni Kring Cokrokusuman dan Kring Cokrodiningratan. Karena alasan kedekatan teritorial, Kring Kricak yang sebelumnya menjadi wilayah Paroki Kumetiran digabung menjadi bagian Stasi Jetis.
Atas prakarsa Rm. Carri dan tokoh-tokoh awam di wilayah Stasi Jetis maka pada tanggal 8 Oktober 1963, dibentuklah “Pengurus Gereja dan Papa-Miskin Room Katolik Di Wilayah Gereja Albertus Agung Soegijopranoto di Yogyakarta” (PGPM) oleh pejabat Uskup Semarang, Mgr. Justinus Darmojuwono. Akta Notaris PGPM disahkan di hadapan Notaris RM. Soeprapto pada tanggal 4 November 1963.
Persoalan besar yang dihadapi oleh PGPM ialah: Dimanakah akan didirikan gedung gereja? Pengurus mulai melirik beberapa tempat yang memungkinkan untuk mendirikan gereja. Beberapa pilihan mulai bermunculan namun belum ada yang sesuai. Di tengah kesibukan mencari tanah itu, umat Stasi Jetis harus rela melepas kepergian Rm. Carri yang diangkat sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Semarang. Sebagai penggantinya adalah Rm. H. Natasusila, Pr, mulai bulan Agustus 1964.
Sementara itu, perkembangan umat semakin pesat. Hal itu karena lahirnya kring-kring baru yakni Kring Karangwaru dan Poncowinatan. Sedangkan Kring Gowongan dan Penumping yang sebelumnya menjadi bagian dari Paroki Kumetiran digabungkan ke Jetis sehingga Stasi Jetis saat itu mempunyai 12 kring. Bertambahnya jumlah kring ini semakin memperkuat keinginan umat untuk memiliki gedung gereja sendiri.
Untuk memperlancar reksa pastoral dan usaha pencarian tanah maka dibentuklah Dewan Paroki yang pertama.
Berkat usaha dan doa yang tidak mengenal lelah, pada bulan Agustus 1964 Stasi Jetis berhasil membeli tanah milik ibu Mohamad Adeline seluas 3945 m2 dengan harga Rp. 850.000,-. Tanah tersebut sudah disertifikatkan dengan status hak pakai atas nama PGPM Albertus Soegiyopranoto Yogyakarta pada tgl. 22 Agustus 1968 dengan no SK 116/HP/68.
Sebagai ungkapan syukur karena telah mendapatkan tanah bagi gereja, maka pada bulan November 1965 diadakan misa syukur. Misa syukur inilah yang kemudian dianggap sebagai saat LAHIRNYA PAROKI JETIS. Dan sebagai ungkapan hormat dan cinta kepada Mgr. Albertus Soegijapranoto, SJ sebagai Pahlawan Nasional dan khususnya tekat untuk meneladan semangat dan pengabdian Beliau kepada bangsa, negara dan gereja maka nama pelindung yang dipilih untuk Paroki Jetis adalah nama babtis Mgr. Soegijapranoto, SJ yakni St. Albertus Agung.
Setelah memiliki gedung gereja sendiri, umat Jetis semakin bersemangat dalam hidup menggereja. Hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh umat dan tumbuhnya kelompok-kelompok, antara lain:
a). Kelompok Legio Maria yang terbentuk pada bulan September 1968. Karena pesatnya perkembangannya, paroki Jetis bahkan dijadikan sebagai pusat legio maria di wilayah DIY, Magelang dan Jateng selatan dengan nama Komisium Pohon SUKA CITA. Banyak dari anggota legio tersebut sekarang menjadi aktivis paroki, tetapi sayang sekarang legio tersebut sudah tidak ada. Namun mulai bulan Juli tahun 2007 tumbuh “kelompok” doa kerahiman/koronka dan senakel, yakni doa bersama Romo Paroki setiap hari Jumat Pk. 15.00.
b). Mudika Paroki (PALMA: Putra Albertus Magnus) yang sudah mengadakan berbagai kegiatan seperti pentas  solidaritas, menggelar lomba koor antar SD se-DIY, menghidupkan perpustakaan paroki, pendakian ke sumbing, latihan kepemimpinan, dll. Memasuki tahun 2000 kelompok ini agak mlempem namun toh ada kegiatan yang menyolok yakni mendirikan Radio Komunitas pada bulan Juli 2003. Radio Komunitas ini bernama Lima Cemara, sebagaimana tertuang dalam Akta Pendirian No. 10 tanggal 11 Juli 2006.
c). Antiokhia: wadah pembinaan iman remaja. Hingga saat ini Jetis dapat dikatakan sebagai pelopor pengembangan Antiokhia di paroki-paroki kevikepan Yogyakarta.
Perkembangan umat paroki Jetis dapat dikatakan meningkat dengan pesat. Hal ini mendorong adanya pemekaran lingkungan sehingga lahirlah lingkungan-lingkungan yang baru.
Pada tahun 1983, lingkungan Kricak dimekarkan menjadi 2, yakni Kricak dan St. Paulus Jatimulyo. Empat tahun kemudian, tahun 1987, lingkungan St. Paulus Jatimulyo dipilah menjadi 3, yakni St. Paulus Jatimulyo, St. Thomas Jatimulyo dan St. Alfonsus Jatimulyo. Seakan tidak mau kalah pada tahun itu juga lingkungan Kricak kembali membidani lahirnya lingkungan Bangunrejo, sedangkan lingkungan Jogoyudan dipilah menjadi 2, yaitu Jogoyudan Lor dan Jogoyudan Kidul.
Di samping itu mulai tahun 1980, stasi Nandan, yang sebelumnya termasuk wilayah Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati digabungkan dengan paroki Jetis. Hal ini mengingat letak geografisnya dan demi optimalnya pelayanan pastoral. Bahkan sejak tanggal 1 Agustus 1996 Stasi Nandan sudah mempunyai gedung gereja yang diberkati oleh Rm. Yoh. Harjaya, Pr selaku Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang.
Perkembangan umat Nandan sangat dipengaruhi oleh ketekunan bruder-bruder Karitas, yang dirintis oleh Br. Alfons Wiryataruna dan juga para romo dan frater dari Konggregasi Redemtoris. Karenanya pelindung yang dipakai adalah St. Alfonsus Maria de Ligouri.
Pada tahun 2000 status stasi Nandan berubah menjadi Paroki Administratif. Bahkan pada ulang tahun ke-8, sudah mempunyai gedung pastoran yang diberkati Uskup Agung Semarang Mgr. Ign. Suharyo pada tanggal 21 Agustus 2004. Dan sejak 15 Juli 2005 pastoran sudah ditempati Rm. Ig. Jayasewaya, Pr. Karenanya seluruh reksa pastoral sudah tidak tergantung dengan paroki Jetis, sekaligus sebagai persiapan untuk menjadi paroki penuh. Sejak tanggal 1 Agustus 2012 Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta menetapkan Paroki St. Alfonsus Nandan menjadi Paroki Penuh yang tertuang dalam Surat Keputusan Pendirian Paroki Nomor 0549/b/i/b-79/12. Dengan demikian maka Paroki St. Alfonsus Nandan sudah tidak menjadi bagian reksa pastora Paroki St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar